Assalamu'alaikum Wr Wb

Sabtu, 10 April 2010

Menuju Surga


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 133-135)
Setiap orang muslim tentu berharap masuk surga dan selamat dari api neraka. Segala amal kebajikan dilakukan dan amal buruk ditinggalkan tidak lain untuk mendapat ridha Allah sehingga pada Hari Kiamat kelak menjadi penghuni surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang demikian luas itu oleh Allah hanya disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Siapakah orang yang bertakwa itu? Dalam surat Ali Imran ayat 134-135 dijelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa.
Pertama: Menafkahkan Harta dalam Keadaan Lapang maupun Sempit.
Keimanan yang bersemayam di hati seorang muslim, akan menggerakkannya untuk menafkahkan harta, bersedekah, berkorban dan berjihad di jalan Allah. Dia tidak akan merasa segan mengeluarkan apa yang dimilikinya untuk dibelanjakan di jalan Allah. Sebab, dia yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik lagi. Di saat sekarang ini, dimana kebodohan merajalela, dan akhlak masyarakat merosot tajam, alangkah baiknya menafkahkan harta untuk kepentingan dakwah. Misalnya, membiayai penerbitan buku Islami, buletin Jum’at, kaset dan CD Islami. Sebab, dengan adanya informasi yang sesuai syariat, maka umat Islam tidak akan mudah mengikuti tradisi-tradisi yang bertentangan dengan agama. Seperti halnya sekarang ini, dimana media-media informasi dengan gencarnya mempropagandakan perayaan Hari Valentine. Padahal, budaya tersebut merupakan tradisi umat non-muslim yang tidak patutu dicontoh oleh umat Islam. Selain itu, dalam perayaan Hari Valentine mengandung ajakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama dengan dalih kasih sayang.
Tentang pahala yang didapat orang yang menginfakkan hartanya, Allah swt berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah: 261)
Kedua: Menahan Amarah.
Menahan amarah artinya mengendalikan diri dari emosi dan kemarahan serta tidak melampiaskannya kepada orang lain. Orang yang menahan amarah, jiwanya akan sehat, mencapai kesuksesan sosial, dan terhindar dari berbagai penyakit. Amarah yang tidak dibendung akan meningkatkan tensi darah dan detak jantung yang pada gilirannya menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, tenggorokan kering, infeksi saluran perut dan kerusakan organ tubuh lainnya. Rasulullah menjanjikan bagi orang yang dapat menahan amarahnya akan mendapat bidadari di surga. Beliau bersabda, “Orang yang menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka (pada Hari Kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para pemimpin manusia kemudian ia disuruh untuk memilih bidadari yang paling dia senangi.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Abu Dawud)
Ketiga: Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Ketika ada seseorang menyakiti kita, tentu tidak mudah bagi kita untuk memaafkannya. Namun, Islam mengajak umatnya agar mau memaafkan kesalahan orang lain, dan menjanjikannya keutamaan di dunia maupun akhirat. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang ingin ditinggikan bangunannya di surga dan diangkat derajat dirinya, maka maafkanlah orang yang telah menzhaliminya, memberi kepada orang yang tidak memberinya, dan menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang memutuskannya. (HR. Al-Hakim)
Keempat: Bertaubat
Sifat orang bertakwa yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan ampunan dan surga adalah orang yang ketika melakukan perbuatan keji atau melakukan maksiat, dia segera mengingat Allah dan bertaubat meminta ampunan. Bertaubat kepada Allah dilakukan dengan membaca istighfar, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Dengan melaksanakan keempat amalan ini, semoga kita semua diampuni Allah dan kelak mendapatkan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal untuk selama-lamanya.

--Zafira --
read more...

Jumat, 09 April 2010

Sulitkah Berkata Jujur???


Mungkin jika kita mendengar kata jujur sudah pasti dosa yang akan terlintas di benak anda, namun mengapa masih banyak orang yang melakukannya yang sesunggunya jelas-jelas bahwa hal tersebut adalah salah!! Masing-masing watak seseorang memang berbeda-beda dalam memahami pentingnya sebuah kejujuran, dimana kerap kali sangat sulit untuk melakukan sesuatu hal yang tidak bertentangan dengan hati nurani kita, apakah hal tersebut dikarenakan karna sudah menjadi kebiasaan, atau kurangnya nilai-nilai agama yang ada pada diri masing-masing orang?

Beberapa contoh kecil sebuah kejujuran seperti seorang anak dimana seharusnya bisa dikatakan lugu dan polos namun sudah mampu membohongi orang tua, misalkan seorang anak yang melakukan kesalahan karena telah mengotori seragam sekolah, yang jelas-jelas orang tua sudah melarang bermain menggunakan seragam sekolah, namun jika kita lihat pada contoh diatas akan nampak bahwa rasa takut yang menyebabkan seseorang melakukan ketidak jujuran, lalu bagaimana dengan para anggota legislatif yang melakukan korupsi dengan jumlah besar atau bagaimana dengan seorang suami yang selingkuh dengan wanita lain? apakah tidak jujur muncul karna rasa bersalah seperti hal nya contoh anak yang mengotori seragam sekolahnya?

Memang akan sangat luas sekali jika kita membicarakan seseorang yang tidak jujur, dimana sesungguhnya dengan berkata jujur memberikan kepuasan tersendiri dalam benak dan hati kita, yang mungkin anda akan beranggapan bahwa dengan melakukan tidak jujur dalam hal materi meskipun kecil nilainya orang lain tidak akan mengetahui apa yang kita perbuat. Jika saya akan bertanya pada anda!! bagaimana perasaan anda disaat melakukan sesuatu dengan jujur dan dibandingkan dengan tidak jujur? apakah ada perbedaan dalam hati kecil pada diri anda dalam melakukan tidak jujur dan jujur? tentunya anda bisa menjawabnya. Jadi.., apakah sulit berkata jujur...?
read more...

---GODA'AN DUNIA & HARTA--- (Bag-1)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu, takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)

Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy, hal. 9)

Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta dan dunia dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak panah lainnya.’ Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya: ‘Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi?’

Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’

Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)

Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama. Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya, disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan. Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kemurkaan-Nya.”

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku. Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”

Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…

Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).

Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik, dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)

اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu ‘alam bish-shawab.


Jazakallah khairan katsir...
read more...

--- Goda'an DUNIA & HARTA --- ( Bag-2)

Mereka berkata bahwa sebagian kaum muslimin ketinggalan dalam sains dan teknologi akibat terlalu sibuk dengan urusan akhirat dan melupakan dunia.

Atas dasar apa mereka berkata demikian?

Adakah manusia yang sehat melupakan nasibnya di dunia, padahal dia sedang hidup di dunia?

Mungkinkan seseorang lupa terhadap apa yang sedang dialaminya?

Perlukah manusia diingatkan agar mereka mencari kenikmatan dunia?

Pernahkan anda membenci harta karena sibuk ibadah?

Sering terdengar ungkapan yang menerangkan bahwa Islam menganjurkan untuk mencari kekayaan. Dan menganjurkan agar kehidupan dunia seimbang dengan kehidupan akhirat. Anjuran tersebut sering didukung dengan menggunakan beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Ayat ini sering diartikan dengan kalimat: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” [QS. al-Qashash (28) : 77]

Pemahaman yang sama juga diambil dari firman Allah yang berisi du’a yang selalu Rasul amalkan dan beliau anjurkan kepada ummatnya untuk selalu berdu’a dengan ayat tersebut, yaitu firman Allah :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” [QS. al-Baqarah (2) : 201]

Kebanyakan manusia menganggap bahwa kebaikan dunia adalah harta kekayaan yang berlimpah, jabatan yang tinggi, badan selalu sehat, pasangan hidup yang senantiasa menghibur dan lain-lain.

Kita yakin bahwa Rasul SAW adalah kekasih Allah, bila beliau berdu’a memohon apapun pasti Allah mengabulkannya. Dan beliau sering sekali berdu’a dengan du’a ini.

Apakah yang dimaksud dengan kebaikan dunia menurut Islam? Kalau sekiranya yang dimaksud dengan kebaikan dunia adalah harta kekayaan yang berlimpah, mengapa Rasulullah tidak terkenal sebagai konglomerat?

Kalau yang dimaksud dengan kebaikan dunia adalah jabatan terhormat, mengapa Rasulullah dimusuhi oleh sebagian masyakat Arab? Atau yang dimaksud dengan kebaikkan itu adalah panjang umur dan sehat selalu, mangapa beliau hanya hidup selama 63 tahun dan terkadang menderita sakit? Sementara dianatara orang lain bahkan orang kafir ada yang mengalami hidup hingga lebih dari 100 tahun?

Disamping kedua ayat di atas ada lagi ayat yang sering dipahami dengan tafsirkan yang sama yang mengarah kapada materialism, yaitu firman Allah :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Ayat ini sering diartikan dengan: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum sehingga mereka sendiri merubahnya.” [QS. ar-Ra'd (13) : 11]

Sungguh banyak orang yang menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang pentingnya kemajuan pembangunan fisik dan materi. Padahal tanpa didukng oeh ayat al-Qur’an, umumnya manusia berlomba dalam mencapai kemajuan material. Karena itu apakah makna dukungan tersebut?

Ketiga ayat ini sering dijadikan argumantasi oleh sebagian penceramah dan muballig untuk mendukung kaum muslimin agar semangat mencari kehidupan dunia, meningkatkan pembangunan fisik dan materi serta mendoroang mereka agar dapat berlomba dalam teknologi dan sains.

Keterangan seperti ini bukan saja disampaikan melalui ceramah-ceramah akan tetapi juga disampaikan melalu media cetak hingga pemahamannya sudah demikian melekat pada benak khalayak ramai, karena telah diuraikan oleh orang-orang yang mereka pandang sebagai penasihat terkemuka atau ulama.

Sangat penting kiranya bagi kita untuk melakukan studi dengan memperhatikan hubungannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya, agar dapat diketahui lebih mendalam maknanya.

Ayat pertama firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) dunia.” [QS. al-Qashash (28) : 77]

Apa yang dimaksud dengan nasibmu dari dunia? Tentu berbeda dengan nasibmu di dunia.

Untuk memahami ayat ini, sangat diperlukan kajian terhadap ayat sebelumnya yaitu firman Allah :

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.” [QS. al-Qashash (28) : 76]

Kalau kita perhatikan dengan cermat, kedua ayat ini ternyata menjelaskan pentingnya beramal untuk akhirat dan mengingatkan jangan tertipu dengan keni’matan dunia seperti halnya yang dialami oleh Qarun.

Namun kenapa banyak yang memahami ayat yang berbunyi وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا sebagai dalil pentingnya mencari kehidupan dan meningkatkan kekayaan dunia. Padahal bila dihubungkan dengan ayat sebelumnya, dapat diketahui bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang mendapat keni’matan banyak harta di dunia. Dan ayat ini mengarahkan mereka agar tidak terlena dengan kenimatan sesaat.

Mereka harus senantiasa ingat akan nasibnya dari dunia yang sangat sedikit dan sebentar. Bila kenikamatan yang sedikit ini tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kehidupan yang abadi tentu mereka akan menyesal untuk selamanya. Sementara sebagian orang menjadikan ayat ini sebagai dorongan untuk meningkatkan kehidupan duniawi, padahal tanpa menggunakan ayat al-Qur’an pun kebanyakan manusia terus berlomba dalam mencari dan meningkatkan kehidupan dunia.

Sebaliknya, karena kesibukan duniawi yang tidak pasti ini, banyak sekali manusia melupakan tugasnya sebagai hamba dalam menghadapi hari akhirat yang pasti terjadi. Karena itu sangat diperlukan bagi mereka penjelasan tentang hakikat keni’matan dunia, bahwa keni’matan tersebut Allah sediakan demi bekal akhirat. Dan manusia diingatkan bahwa waktu yang tersedia untuk membekali diri demi kepntingan akhirat sangat terbatas. Karena itu janganlah manusia lalai akan keterbatasan waktu ini.

Ibnu Abi-Ashim mengatakan: “Yang dimaksaud dengan ‘jangan lupa nasibmu dari dunia’ bukan berarti jangan melupakan keni’matan lahir di dunia, melainkan umurmu. Artinya gunakanlah usiamu untuk akhirat.”

Dan Ibnul Mubarak juga berpandangan yang sama, ia berkata: “Yang dimaksud dengan ‘jangan lupa nasibmu dari dunia’ adalah beramal ibadah dalam taat kepada Allah di dunia untuk meraih pahala diakhirat.”

Dua ungkapan diatas bukanlah ungkapan yang baru melainkan kelanjutan dari ungkapan para pendahuluunya dari para ahli tafsir baik generasi shahabat, tabiin atau tabittabi’in.

Dalam menafsirkan ayat ini Ath-Thabari mengatakan: “Janganlah kamu tinggalkan nasibmu dan kesempatanmu dari dunia untuk berjuang demi meraih nasibmu dari akhirat, maka kamu terus beramal ibadah yang dapat menyelamatkanmu dari siksaan Allah.”

Dia juga mengutip beberapa ungkapan para shahabat, dianataranya:

Ibnu Abbas: “Kamu beramal didunia untuk akhiratmu.”

Mujahid: “Beramal dengan mentaati Allah.”

Zaid: ”Janganlah kamu lupa mengutamakan dari kehidupan duniamu untuk akhiratmu, sebab kamu hanya akan mendapatkan di akhiratmu dari apa yang kamu kerjakan didunia dengan memanfaatkan apa yang Allah rizkikan kepadamu.”

Dari beberapa pernyataan shahabat diatas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan “jangan melupakan nasibmu dari dunia” adalah peringatan jangan lalai terhadap kesempatan untuk beramal yang tidak lama lagi akan berakhir. Artinya menyuruh manusia agar mampu menggunakan semua karunia Allah demi keselamatan dan kemaslahatan akhirat. Dengan demikian, maka makna ayat ini sangat erat hubungannya antara awal, tengah dan penghujung ayat. Dan tidak ada hubungan dengan perintah untuk berlomba dalam mencari kehidupan duniawi atau meningkatkan kemajuan ekonomi. Sebab tanpa perintah, umumnya manusia terus berlomba untuk meraih kehidupan dunia.

Namun demikian, justru pemahaman inilah yang lebih populer dan meyakinkan karena sering dikemukakan oleh orang-orang yang berpengaruh. Memang, tidak sedikit pandangan yang keliru tapi meyakinkan.

Pemahaman di atas juga sering di perkuat dengan ungkapan: Kerjakanlah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, dan kerjakanlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.

Meski tidak pernah ada yang mengatakan siapa yang meriwayatkannya, sebagian penceramah mengatakan bahwa ungkapan ini adalah sabda Rasul SAW. Penulis hingga kini belum menemukan bukti sebagai hadits nabi.

Terlepas dari perkataan siapa kalimat tersebut, yang jelas kalimat ini mengandung pepatah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat bila dipahamai dengan tepat. Dan bila ditemukan ada pahaman yang kurang tepat atau keliru, sebagai hamba, kita terpanggil untuk mengemukakan apa yang dipandang lebih tepat. Dengan harapan mudah-mudahan akan menjadi bahan pertimbangan. Menurut al-Qurthubi , kalimat di atas sejajar dengan ungkpan Abdullah bin Umar, ia berkata: “Bercocok tanamlah kamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, dan beramallah kamu seolah-olah kamu akan mati esok hari.”

Sehubungan dengan kalimmat yang pertama yaitu keabadian hidup didunia al-Minawi berkata: “Yang demaksud dengan ungkapan tersebut adalah bahwa manusia apabila yakin akan hidup abadi maka akan berkuranglanglah hirsh-nya (cintanya kepada dunia) dan dia mengetahui bahwa apa yang diinginkannya pasti akan tercapai kendatipun ditempuh dengan rileks, sebab bila tidak tercapai hari ini maka akan diraih esok karena hidupku abadi.”

Karena itu, janganlah terlalu sibuk dalam urusan dunia sebab ada tugas lain yang lebih penting yaitu urusan akhirat. Dan dalam melaksanakan tugas demi meraih keni’matan akhirat, setiap hamba mesti Merasa seolah-olah tidak ada kesempatan lain untk melakukannya kecuali hari ini. Maka bila sedang sibuk menghadapi urusan keduniaan kemudian mendengar panggilan illahi berupa shalat, da’wah, infaq, jihad dan liannnya maka sambutlah panggilan ini dan tinggalkanlah urusuan dunia, karena kesempatan untuk menyambut panggilan ini tidak ada lagi waktu selain hari ini sementara untuk urusan dunia waktunya sangat lapang.

Sekiranya kalimat ini dari ungkapan Rasul, maka tidak dapat diragukan hadits Rasul adalah tafsir al-Qur’an yang pertama dan tepat untuk dijadikan sebagai rujukan utama dalam memahami al-Qur’an. Dan apabila kalimat tersebut adalah ungkapan shahabat, maka sesungguhnya mereka adalah generasi pertama yang lebih memahami makna al-Qur’an dan yang menjadi tauladan bagi generasi berikutnya. Karena itu pemahaman mereka adalah lebih tepat untuk diikuti dan dipercayai dibandingkan dengan pemahaman generasi berikutnya. Bila ditemukan pernyataan mereka tidak sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, maka besar kemungkinan yang tidak sesuai bukan pernyataannya akan tetapi pemahaman kita terhadap pernyataan tersebut.
read more...

Hukum Orang yg Sengaja Tidak mau Membayar Hutang

Berdosa besar bagi orang yang sengaja tidak membayar hutang. Seseorang yang suka melewat-lewatkan bayaran hutang setelah berkemampuan untuk membayar-nya, boleh mendatangkan kesan buruk dalam hidupnya bukan saja di dunia bahkan di akhirat antaranya :

i. Hidup akan ditimpa kehinaan dan hilang maruahnya.

ii. Hidup mereka tidak akan mendapat Keridhaan dan Keberkatan Allah SWT.

iii. Perbuatan mereka itu digolongkan dalam perbuatan zalim.

iv. Amalan Kebajikan mereka tidak akan diterima.

Sabda Rasul S.A.W.
Maksudnya : “Penangguhan hutang oleh orang yang berkuasa membayarnya, adalah satu kezaliman, halal maruah dan hukuman ke atasnya (Yaitu pemberi hutang boleh mengambil tindakan ke atas diri dan maruahnya)

(Riwayat Ibnu Majah)

Sabda Rasul S.A.W.
Maksudnya : “Kurangkan dirimu daripada melakukan dosa, maka akan mudahlah bagimu ketika hendak mati. Kurangkan daripada berhutang niscaya kamu akan hidup bebas”.
(Riwayat Baihaqi)



jazakallah khairan katsir...
read more...

Kamis, 08 April 2010

Agar Kerja Bernilai Ibadah


Manusia hidup butuh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk giat bekerja dan mencari rezeki. Rasulullah saw bersabda, “Tiada seseorangpun makan makanan, yang lebih baik daripada dia makan dari (hasil) pekerjaan tangannya. Sesungguhnya Nabi Daud as, makan dari (hasil) pekerjaan tangannya.” (HR Al-Bukhari)
Suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya diantara dosa-dosa, ada satu dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh haji dan tidak pula oleh umrah.” Para sahabat kemudian bertanya, “Lantas apa yang bisa menghapusnya, Wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Keprihatinan dalam mencari rezeki.” (HR Ath-Thabrani)
Supaya bekerja bernilai sebagai ibadah, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, yaitu:
1- Menghadirkan Niat Tatkala Bekerja
Niat adalah ruh dan pondasi amal. Amal perbuatan seorang muslim tidak akan mendapatkan pahala, kecuali atas apa yang diniatinya. Rasulullah saw bersabda,“Adapun amal tergantung dari niatnya, dan setiap manusia akan mendapatkan apa yang dia niati.” (HR Al-Bukhari). Niat tidak hanya terbatas dalam ibadah saja, akan tetapi mencakup transaksi jual beli, bekerja, dan sebagainya. Dengan niat sesuatu yang mulanya adalah mubah bisa bernilai menjadi ibadah. Setiap muslim yang bekerja mengais rejeki di bidang pertanian, industri, perdagangan, dsb … akan memperoleh pahala ibadah dan pekerjaannya itu termasuk jihad fi sabilillah, manakala pekerjaan yang dia lakukan diniati supaya dirinya terjaga dari barang haram, tercukupi dengan barang halal dan terpenuhi kebutuhan keluarganya.
Suatu ketika Nabi dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang ulet sekali dalam bekerja. Tiba-tiba ada salah seorang sahabat yang angkat bicara, “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya dipergunakan di jalan Allah.” Rasulullah menjawab, “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb)
2 – Mengamban Tugas Untuk Memakmurkan Bumi
Manusia adalah khalifah (wakil) Allah yang harus mengelola apa yang ada di muka bumi ini. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa dia mengemban tugas penting tersebut, sehingga harus bekerja secara optimal. Adapun hasilnya sepenuhnya dipasrahkan kepada Allah.
Karena tugasnya sebagai khalifah Allah, seorang muslim harus menyadari bahwa harta yang didapatkan adalah titipan yang suatu hari harus dikembalikan dan dipertanggunjawabkan. Rasulullah saw bersabda, “Telapak kaki anak Adam senantiasa berada di sisi Tuhannya pada Hari Kiamat, hingga dia ditanya atas lima perkara: Tentang umurnya untuk apa dia habiskan; tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan; tentang hartanya darimana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan; dan tentang ilmunya apa saja yang telah dia amalkan. (HR Tirmidzi)
3 – Bersungguh-sungguh dalam Mencari Rezeki
Segala sesuatu butuh kesungguhan agar mencapai hasil maksimal. Begitu pula dalam urusan bekerja. Seorang muslim harus memiliki kesungguhan dalam bekerja mencari rezeki, sedangkan hasil yang akan diperoleh sepenuhnya dipasrahkan kepada Allah. Karena hanya Allah yang mengatur seberapa besar rezeki seseorang.
Orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja, juga akan mendapatkan sesuatu yang berharga berupa ampunan dari Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang sore harinya disibukkan dengan pekerjaan tangannya, maka sore harinya diampunkan (dosanya).“
4 – Ridha Atas Rejeki yang Diberikan Allah
Salah satu rukun iman adalah ridha atas qadha qadar yang telah ditetapkan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang terasa pahit. Seorang muslim hendaknya memiliki keyakinan bahwasanya apa yang diberikan oleh Allah adalah yang terbaik baginya. Apabila mendapatkan rezeki yang sedikit, hendaknya tetap bersabar, dan kesabarannya itu akan berbuah pahala di akhirat. Begitu pula ketika mendapatkan rezeki yang banyak, hendaknya bersyukur kepada Allah dan membelanjakan harta itu untuk berjuang di jalan Allah. Dengan demikian dia juga akan mendapatkan pahala yang besar kelak di Hari Kiamat.
Rasululah saw bersabda, “Sungguh mengagumkan perilaku orang mukmin. Seluruh perilakunya berupa kebaikan, dan hal itu hanya terjadi pada orang mukmin. Apabila dia mendapat kebahagiaan, dia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan, dia tetap bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim).
5 – Mengaitkan Aktivitas Sehari-Hari Dengan Zikir Ekonomi
Dunia adalah tempat bercocok tanam yang hasilnya akan dipanen di akhirat kelak. Setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban atas hartanya, darimana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan. Dari sini tampak betapa pentingnya menghubungkan perilaku sehari-hari dengan ibadah. Dalam hal ini, orang yang bekerja hendaklah melakukan zikir ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, zikir ekonomi merupakan sarana yang sangat baik untuk mengingat Allah, melipatgandakan amal kebajikan, menghapus amal buruk, memberikan motivasi dalam bekerja, melapangkan rejeki dan mewujudkan keberkahan atas hasil usaha.
Maksud dari zikir ekonomi adalah seorang yang bekerja, senantiasa berzikir dan berdoa dalam aktivitas kesehariannya. Dari mulai dia bangun pagi, kemudian berwudhu, shalat Subuh berjamaah, ketika hendak berangkat kerja, ketika berada di tempat kerja, dan setelah bekerja hingga menutup mata untuk tidur. Semua aktivitas itu harus diiringi dengan zikir dan doa. Dengan demikian, hari-harinya diisi dengan tetap mengingat Allah swt, sehingga apa yang dikerjakannya dan hasil yang didapatkannya mendapatkan ridha dari Allah swt.
Salah satu bentuk zikir ekonomi adalah ketika seorang muslim mendapat harta lantaran seseorang, dia akan berucap kepada orang itu, “Semoga Allah memberkati keluarga dan hartamu.”(HR Al-Bukhari). Jika suatu ketika dirinya terlilit hutang dan ingin melunasinya, maka dia berdoa, “Ya Allah, cukupilah aku dengan rejeki halal-Mu, jauh dari rejeki haram-Mu. Dan cukupkanlah diriku dengan anugerah-Mu, jauh dari selain diri-Mu.” (HR At-Tirmidzi).
Apabila musim paceklik menimpa, maka berdoalah, “Ya Allah turunkanlah kami hujan yang membantu, yang mengenakkan, yang menyuburkan, yang membawa manfaat, secepatnya dan tidak ditunda.” (HR At-Tirmidzi).
Ketika ditimpa musibah, hendaknya berdoa “Ya Allah, tiada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau menjadikan kesusahan, jika Engkau ingankan (maka menjadi) kemudahan.”(HR Ibnu Hibban).
-- Zafira --
read more...

~~ Menggapai KETENANGAN JIWA yang Islami ~~

Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.

Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur'an menyebutkan beberapa kiat praktis.

1. Dzikrullah

Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta'awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram". (13:28).

Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu'min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.

2. Yakin Akan Pertolongan Allah

Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.

Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (3:126, lihat juga QS 8:10).

Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: "bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS 2:214).

3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah

Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)". Allah berfirman: ("kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS 2:260).

4. Bersyukur

Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.

Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat". (QS 16:112).

5. Tilawah, Tasmi' dan tadabbur Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi') dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur'an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: "Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya". (QS 39:23).

Oleh karena itu, sebagai mu'min, interaksi kita dengan al-Qur'an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur'an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur'an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal". (QS 8:2).

Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku". (QS 89:27-30).

Akhirnya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya. Insya Alloh.., Amin Ya Robbal Alamin...

Ps/
@» Syukron katsir 4 team work data instaling..(My hubby..BD)
read more...

Rabu, 07 April 2010

--- E-mail SALAH ALAMAT ---

Papah Sudah Sampai Mah!!!!


Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali. Mereka akan menempati kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka berhoneymoon saat menikah 30 tahun yang lalu.

Karena kesibukan isterinya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya. Setelah check in di hotel di Bali, di dlm kamar hotel sang suami mendapati komputer yang tersambung ke internet telah terpasang.
Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Celakanya... ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.

Dilain tempat di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah, ia langsung mengecheck e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa.
Baru saja selesai membaca e-mail yang pertama, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut (tak lama kemudian jatuh pingsan juga), yang bunyinya :

To: Isteriku tercinta
Subject: Papah sudah sampai Mah !!!
Date: 07 Maret 2010
Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah. Aku baru sampai dan sudah check-in.
Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh rasanya nungguin kamu. Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.

Love you Mom,
Papah

PS: Disini lagi panas-panasnya. Kalau pada mau, anak-anak diajak aja ya...


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Andai saja dari alam barzah bisa mengirim e-mail.... wooowww sangat indah..juga mengerikan..!!!
Bersyukurlah karena jaringan internet tidak sampai ke sana... he he heeee...


*> This note...just kidding.. @^@
sumber: Bagi Info
read more...

Selasa, 06 April 2010

--- Pesan buat... PARA DOKTER & PARAMEDIS---


Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan menuju SURGA...ASAL bisa dengan teguh memegang Amanah, tulus ikhlas menolong menyelamatkan sesama.
Dan bisa sebaliknya jalan menuju NERAKA jika niatan hanya karena gelimang duniawi semata.

Memilih jalan menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan kepedulian, saat terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien.

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan pengabdian.
Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk.
Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan Empati, ketika dengan lembut merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika tergerak mengabdikan diri dalam Team Medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, .. menepuk bahunya dan berkata, “Jangan menangis lagi, Pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya, ”Dik, mau diceritain dongeng nggak..?”

Memilih jalan menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum mantap bisa berkata, “Maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS
Bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru,
Bukan sekadar bisa terihat kerén dengan jas putih kebanggaan,
Bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk memberi hormat.

Memilih menjadi DOKTER / PARAMEDIS adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita. Bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang di cari. Tapi ridha Allah SWT yang senantiasa di perjuangkan.




Warning...!!!

Jika Anda ingin menjadi Dokter / Paramedis hanya untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda. Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik Anda menjadi businessman bergelimang rupiah daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi Dokter / Paramedis hanya untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silakan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah firaun di sana daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi Dokter / Paramedis untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan.. daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis sementara Anda alpa bagaimana makna menjadi Dokter / Paramedis yang sesungguhnya.

Ps/
Ini bukan provokasi untuk menjadi Dokter / Paramedis miskin, bukan juga mengatakan bahwa Dokter / Paramedis tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya.

Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk meluruskan kembali niat menjadi seorang Dokter / Paramedis. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan utama.

Dokter / Paramedis terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata.
Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun harus yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati.
Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya,
Walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan.
Yakinlah.., Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan Perjuangan hamba-hamba-Nya.


-----------------------------------------------------
@--Catatan ini teruntuk Putriku tercinta...
MARRIZKA GALUH PARAMADHITA, dkk.. yg saat ini tengah menekuni study di bidang ini,
Smoga kelak kau menjadi Ahli Medis yg bisa menolong sesama dengan hati nurani yg tulus ikhlas karena ALLOH SWT, Amin... (Salam Kasih & Do'a Bunda..-Shofie-)
read more...

Minggu, 04 April 2010

-- ANDAI ESOK PAGI TAK LAGI KULIHAT FAJAR --


Setiap bangun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur...
bahwa Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar.
Merasakan hembusan angin pagi yang menerobos celah jendela, dan menjumpai semua yang
semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.

Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan.
Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak melangkah kejalan yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang, tak memamah yang tak halal, tak mendengar yang batil, dan tak banyak melakukan yang sia-sia.
Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan ditagih tanggungjawabnya.
Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai kesaksiannya atas diri ini.
Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa yang pernah terjadi.

Hari ini, masih ada lalai terbuat.
Masih juga lengah sehingga khilaf tercipta.
Meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai alpa.
Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah
ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata menitikkan butir bening air mata, seraya memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa.

Tetapi tak jarang masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.
Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hari berbuat salah.
Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata,
Menyusun kalimat doa, menganyam pinta semoga Allah menghapusnya dalam sekejap.
Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang
lupa. Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunanNYA.
Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu.
Lupakah pula bahwa menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang..???,
Bagaimana andai esok pagi tak lagi bisa melihat Fajar..???
Padahal baru saja seharian ini berenang di lautan dosa.
Padahal belum sempat menghapus noda hari ini, kemarin, sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu.

Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam terlelap?
Bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga semalam adalah yang terakhir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihatseluruh keluarga menangisi jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.

Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari timur?
Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya.
Padahal di hari ini, belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, dan
orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita.
Sudah terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak terhitung salah diri.
Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.

Dan jika memang esok tak pernah datang. Sungguh celakalah diri ini.
Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup.
Bila belum mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi,
Bila belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain,
Bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan khilaf yang tercipta.

Maka, saat pagi ini Allah masih memperkenankan diri kita menikmati fajar,
Mulaikan hari dengan kalimat, “Terima kasih.., Ya Allah.. Ya Rabb...masih KAU beri aku kesempatan bernafas... ”
dengan mengucap kata Bissmillahirohmanirrohiim... kita awali aktifitas sepanjang hari...


Jazakallah khoiron katsir...,,
Shofie (fiek's)
read more...